Breaking News
Loading...

Artikel

BERITA

UNIK

Recent Post

Saturday, 16 January 2016
no image

Perhitungan Resolusi pada Teleskop

Gambar Teropong Bintang
Pernahkah kalian melihat bintang? tentu kalian tahu bahwa untuk melihat bintang secara jelas kita membutuhkan suatu alat yang benama "Teropong Bintang".
         Pada kesempatan ini, akan lebih mengulas tentang "Perhitungan Resolusi pada Teleskop".
          Gambaran mengenai ruang dari kuat cahaya yang melintasi suatu celah adalah transformasi Fourier pada celah itu. Ini mengikuti dari dasar teori difraksi Fraunhofer. Suatu celah adalah satu rangkaian celah kecil sekali. Cahaya yang melintasi dua celah yang bertentangan dengan dirinya sendiri, secara berurutan secara konstruktif dan destruktif. Intensitas deret dibelakang celah adalah penyiku dari amplitude menyangkut garis vector yang elektromagnetis itu. Pengintegrasian ke seberang celah ditemukan bahwa, intensitas cahaya, sebagai fungsi jarak off-axis Ѳ adalah I = Io sin2(u)/u2.
            Teropong bintang yang biasanya mempunyai tingkap lingkaran, karena profil mengenai ruang dari intensitas adalah transformasi Fourier dari suatu lingkaran. Seseorang dapat juha lakukan dengan pengintegrasian 2-dimensional. Bagaimanapun, bahkan semakin dekat sumber dengan sama teramh akan menghasilkan suatu puncak pusat tidak melingkar, kaleng sumber dengan sama terang/ cerdas pada prinsipnya dideteksi ke sekitar 1/3 jarak Rayleigh.

            Teropong bintang riil tidak mempunyai semata-mata tingkap lingkaran. Efek dari suatu penggelapan pusat akan berkurang jumlah cahaya di dalam puncak pusat, dan meningkatkan intensitas di dalam cincin difraksi. Sebagai tambahan, pendukung untuk penggelapan pusat lenturan cahaya yang datang berikutnya, member poin-poin untuk melihat gambaran dari bintang terang. 
Model Pembelajaran Konvensional

Model Pembelajaran Konvensional

Gambar Pembelajaran Secara Konvensional
Proses pembelajaran di kelas tentunya sangat menentukan sekali dalam mencapai tujuan dimana materi yang diberikan oleh guru mampu dipahami oleh siswa. Tetapi kadang pembelajaran yang masih berpijak pada guru sebagai pusat pembelajaran (Teacher Centered), dimana masih mengandalkan bahwa gurulah sebaigai pusat segala sumber infoemasi / ilmu.
Berikut ini, admin akan memberikan ulasan tentang pembelajaran Konvensional, dimana pemeblajaran yang masih bersifat teacher centered.
Model pembelajaran konvensional mengacu pada psikologi behavioristik, di mana guru berperan sebagai pusat informasi (teacher centered). Skinner dalam bukunya, menyatakan tentang teori psikologi behavioristik, siswa dipandang sebagai komponen pasif dalam pembelajaran, memerlukan motivasi luar dan dipengaruhi oleh reinforcement.
Pembelajaran konvensional adalah salah satu model pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran ceramah. Pada model pembelajaran ini, siswa diharuskan untuk menghafal materi yang diberikan oleh guru dan tidak untuk menghubungkan materi tersebut dengan keadaan sekarang sesuai dengan kehidupan nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual).
Siswa pada pembelajaran tradisional jarang didorong untuk menyelesaikan permasalahan nyata melalui penerapan konsep-konsep dan fakta yang mereka pelajari. Pembelajaran pemecahan masalah secara konvensional umumnya menekankan well-structured problem, yang dipresentasikan secara jelas dengan semua informasi yang diperlukan dan dengan algoritma yang tepat untuk memperoleh jawaban benar.
Menurut Sadia et al., ciri pembelajaran sains tradisional, yaitu (1) konsep-konsep diperoleh dari buku teks, (2) menggunakan laboratorium dan aktivitas yang disarankan dalam buku pelajaran, (3) keterlibatan siswa kurang aktif, karena informasi biasanya telah disediakan guru atau ada dalam LKS, (4) pernyataan pentingnya informasi berasal dari guru, (5) siswa berkonsentrasi pada masalah yang disiapkan oleh guru, dan (6) sains dipelajari disekitar dinding kelas, sebagai bagian dari kurikulum.

Suryobroto menyatakan langkah-langkah dari model pembelajaran konvensional, yaitu (1) apersepsi oleh guru, (2) penyajian informasi, (3) ilustrasi dan contoh soal, (4) latihan soal, (5) umpan balik, dan (6) evaluasi.

Baca juga: Teori Belajar Konstruktivisme
no image

Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Teori Konstruktivistik
Paradigma konstruktivistik menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersifat sementara terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cenderung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesaikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi.
Santyasa dalam artikelnya menyatakan bahwa belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangun pengetahuannya. Siswa sendiri yang bertanggung jawab atas peristiwa belajar dan hasil belajarnya. Siswa sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikannya dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, dan pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna.
Suparno juga menyatakan belajar sebagai proses aktif pebelajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki oleh seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan.  Proses tersebut bercirikan sebagai berikut.
1)      Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna dipengaruhi oleh pengertian yang ia punyai.
2)      Konstruksi arti adalah suatu proses yang berjalan terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru akan diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3)      Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar juga bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, yaitu suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4)      Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema/pengetahuan awal seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
5)      Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pebelajar tentang dunia fisik dan lingkungannya.
6)      Hasil belajar seseorang tergantung dari apa yang telah diketahui si pebelajar, seperti konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan apa yang dipelajari.
Adapun prinsip-prinsip dasar pandangan konstruktivis menurut Suparno adalah sebagai berikut. 1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial. 2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pembelajar ke pebelajar, kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk menalar. 3) Siswa aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah. 4) Guru berperan sebagai fasilitator menyediakan sarana dan situasi agar proses berjalan mulus.
Implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar mengajar adalah peran seorang guru sebagai mediator dan fasilitator. Agar peran dan tugas guru tersebut berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa hal yang diperhatikan oleh pengajar  adalah sebagai berikut.
1) Guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan. 
2) Membicarakan tujuan dan apa yang akan dilakukan dalam aktivitas di kelas dengan siswa, agar siswa benar-benar terlibat. 
3) Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di antara pelajar. 
4) Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap mereka bahwa mereka dapat belajar. 
5) Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena terkadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang kadang tidak bisa diterima oleh guru.

Perspektif konstruktivisme dalam pembelajaran mempunyai ciri-ciri bahwa pembelajaran dilakukan sebagai proses berfikir individual dalam kolaborasi dan interaksi dengan siswa lain, untuk memecahkan masalah yang otentik. Siswa harus lebih berperan dan bertanggungjawab dalam proses belajar dengan bimbingan guru yang lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator. Sebagai model yang mengutamakan keaktifan siswa dan kemampuan pengembangan berfikir tinggi (kompleks) model pembelajaran kontruktivistik yang sering digunakan adalah discovery learning dan problem based learning.

Baca juga: Teori Belajar Konvensional
Gerak Matahari

Gerak Matahari

Gambar Matahari

Walaupun kecepatan ruang bintang itu diacu terhadap matahari namun matahari itu sendiri adalah juga sebuah bintang dan juga bergerak di antara bintang-bintang tersebut. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana gerak matahari itu sendiri agar dapat mengoreksi kecepatan ruang bintang akibat gerak matahari ini.
William Herscheel adalah astronom yang pertama kali mengamati gerak matahari berdasarkan gerak sejati bintang.  Berdasarkan analisisnya terhadap gerak sejati bintang ini, pada tahun 1783 dia menyimpulkan bahwa matahari kita bergerak ke arah rasi Hercules. Analisis modern terhadap gerak sejati dan kecepatan tangensial bintang-bintang di sekitar matahari menunjukkan bahwa matahari kita ini bergerak menuju ke arah yang sekarang ditempati oleh bintang Vega di rasi Lyra dengan kecepatan sekitar 20 km/s. Arah di langit ke mana matahari bergerak menujunya dinamakan apex dari gerak matahari, dan arah yang berlawanan dengan ini disebut antapex.
Matahari mempunyai dua macam gerakan yaitu sebagai berikut:
v  Rotasi mengelilingi sumbunya, lamanya 25 1/2 hari satu kali putaran. Gerakan rotasi dapat dibuktikan dengan terlihat noda-noda hitam di bagian inti yang kadang-kadang berada di sebelah kanan dan kira-kira 2 minggu berada di sebelah kiri.
v  Bergerak di antara gugusan-gugusan bintang. Selain berotasi, matahari bergerak diantara gugusan bintang dengan kecepatan 20 km per detik, pergerakan itu mengelilingi pusat galaksi.
Diagram Hertzsprung-Russel (diagram HR)

Diagram Hertzsprung-Russel (diagram HR)

Gambar Diagram -HR
Dalam menganalisis data, cara yang paling sering digunakan adalah diagram Hertzsprung-Russel (diagram HR). Diagram ini menunjukkan hubungan luminositas (atau besaran lain yang identik, seperti magnitudo mutlak) dan temperatur efektif (atau besaran lain, seperti indeks warna (B-V), atau kelas spektrum). Dengan memetakan bintang berdasarkan kelas spektrum dan amplitudo mutlaknya dan menempatkan posisinya pada diagram ini ternyata sebaran bintang ini tidak merata tetapi mengelompok pada bagian-bagian tertentu dari diagram tersebut (Wiramihardja, 2006).
Pada diagram HR, sebagian besar menempati suatu jalur dari kiri atas (bintang-bintang yang panas dengan luminositas tinggi) ke kanan bawah (bintang-bintang yang dingin dengan luminositas rendah). Deretan bintang ini disebut deret utama (main sequence) dan disingkat DU. Matahari berada di deret ini. Selain deret utama, ada pula pengelompokkan lain yaitu maharaksasa (supergiant), raksasa (giant), dan katai putih (white dwarf). Distribusi bintang pada diagram HR diperkirakan hampir 90% bintang ada dalam deret utama, 10% katai putih dan hanya kurang dari 1% tergolong dalam raksasa atau maha raksasa
Gambar Distribusi bintang pada diagram H-R
Ciri-ciri dari kelompok bintang di atas adalah sebagai berikut.
a.         Bintang maharaksasa dan raksasa
a)      Jumlah bintangnya tidak sebanyak di DU
b)      Luminositasnya sangat besar
c)      Kebanyakan bintang-bintang yang temperaturnya rendah
d)     Ukurannya (jari-jari) sangat besar
b.        Bintang katai putih
a)      Terletak di bagian kiri bawah diagram HR
b)      Luminositasnya kecil
c)      Temperaturnya tinggi
d)     Ukurannya (jari-jari) kecil, beberapa puluh kali lebih kecil dari matahari.
            Diagram H-R ternyata dapat juga digunakan untuk menaksir jarak bintang. Misalnya suatu bintang dengan kelas spektrum G2 pada deret utama. Dari diagram H-R dapat diketahui magnitudo mutlak bintang tersebut misalnya M = +5. Pandanglah sekarang bintang-bintang yang ada di sudut kanan atas diagram H-R. Misalnya suatu bintang dengan magnitudo mutlak -8 atau kurang. Bintang seperti ini luminositasnya hampir 104 kali luminositas matahari, tetapi kelas spektrumnya M yang menandakan suhu permukaannya rendah atau dingin misalkan dengan suhu 3000 K yang berarti setengah dari suhu permukaan matahari. Ini berarti luas permukaan bintamg itu sekitar 160.000 kali permukaan matahari atau jejarinya 400 kali jejari matahari dan volume sekitar 64.104 kali volume matahari. Dapat disimpulkan bahwa bintang seperti ini adalah bintang yang sangat besar dengan klas spektrum merah sehingga dinamakan raksasa merah (red giant). Di lain pihak massa bintang ini adalah sekitar 50 kali massa matahari. Jadi, bintang ini kerapatannya sangat rendah sepersepuluh juta kali kerapatan matahari dan bagian luarnya terdiri dari gas yang sangat renggang.
Sebaliknya ujung kanan bawah deret utama terdiri dari bintang yang merah, dingin, dan luminositasnya rendah. Bintang ini jauh lebih kecil dari matahari, jejarinya sekitar sepersepuluh jejari matahari dan lebih mampat. Bintang seperti ini dinamakan bintang katai merah (red dwarf). Suhu bintang ini sekitar 2700 K dan mutlaknya +13.

     Bila diteliti lebih jauh ternyata bintang-bintang yang ada di deret utama memiliki hubungan langsung antara terang bintang dengan suhunya. Makin tinggi terang bintang itu, makin tinggi suhunya sehingga warnanya putih kebiruan. Demikian pula makin lemah cahaya bintang, suhunya makin rendah dan warnanya makin merah. Matahari kita yang berada pada klas G2 didominasi oleh warna kuning dan berada pada bagian tengah deret utama tersebut.

Baca juga: 
* Diagram Hetzsprung-Russel (Diagram HR)
* Perhitungan Resolusi pada Teleskop
* Gerak Matahari
* Klasifikasi Spektrum Bintang
* Warna dan Suhu Bintang
* Indeks Warna Bintang
Klasifikasi Spektrum Bintang

Klasifikasi Spektrum Bintang


Tiap jenis spektrum memiliki pola garis spektrum yang berbeda, karena banyaknya pola spektrum yang dihasilkan ini maka orang mengelompokkan spektrum radiasi bintang yang disebut dengan klasifikasi spektrum. Pada tahun 1863, Angelo Secci mengklasifikasikan spektrum bintang menjadi 4 kelompok menurut garis-garis spektrumnya. Tetapi dewasa ini para Astronom membagi spektrum bintang menjadi tujuh kelompok atau klas. Tidak lama kemudian ditemukan bahwa klasifikasi ini ternyata bergantung pada suhu permukaan bintang, bukan pada komposisi bahan kimia penyusunnya. Klas spektrum ini disusun menurut penurunan suhunya dan diberi kode dengan huruf yaitu: klas O, B, A, F, G, K, M.
Tiap klas dibagi lagi menjadi sepuluh bagian yang diberi tanda dari 0 sampai 9. Misalnya bintang yang klas spektrumnya G5 berarti berada antara G0 dan K0.
            0          B         B1        A         F          G0        G5        K0        M         M2
            Urutan spektrum ini mulai dari bintang terpanas sampai bintang yang paling rendah suhu permukaannya. Tabel di bawah ini memperlihatkan deret klas spektrum bintang dengan rentang suhu pada klas masing-masing.
DERET KLAS SPEKTRUM BINTANG
Klas spectrum
Warna
Suhu
Contoh
Di rasi bintang
O
Biru
> 25000
Lacertae
Lacerta
B
Biru
11. 103 – 25. 103
Rigel
Spica
Orion
Virgo
A
Biru
7,5. 103 – 11.  103
Sirius
Vega 
Canis mayor
Lyra
F
Biru-putih
6. 103 – 7,5. 103
Canopus
Procyon
Carina
Canis minor
G
Putih-kuning
5. 103 – 6. 103
Matahari
Capella

Auriga
K
Orange-merah
3,5. 103 – 5000
Acturus
Aldebaran
Bootes
Taurus 
M
Merah
<3500
Antares
Betelgeuse
Scorpio
Orion

Ciri-ciri utama dari ketujuh klas spektrum bintang tersebut adalah sebagai berikut:
Klas O  : Garis ion helium, nitrogen, oksigen, karbon dan silikon tampak bersama dengan garis hidrogen.
Klas B   : Garis helium netral, ion silikon, oksigen dan magnesium. Garis hidrogen muncul lebih kuat pada seluruh bagian dari spektrum.
Klas A  : Garis hidrogen kuat, dan juga garis ion magnesium, silikon, besi, titanium, dan beberapa logam netral yang lemah.
Klas F   : Garis hidrogen masih menonjol tetapi lemah dibandingkan dengan yang tipe A. terdapat garis ionisasi tunggal kalsium besi, dan chromium. Juga garis besi dan chromium netral.
Klas G  : Garis kalsium terionisasi paling menonjol. Juga terdapat garis logam netral yang terionisasi dan garis hidrogen lemah.
Klas K  : Garis logam netral mendominasi. Masih terdapat pita CH.
Klas M  : Garis logam netral dan bersama dengan pita molekul titanium oksida dominan.
Bintang-bintang O, B, A disebut bintang panas sedangkan bintang G, K, M dinamakan bintang dingin. Sebagian besar bintang-bintang ada dalam ketujuh kelompok deret tadi. Tetapi masih ada lagi sedikit bintang yang memerlukan klasifikasi khusus. Ada empat jenis kelompok tambahan yang melengkapi deret sebelumnya yaitu tipe W, R, N, dan S.
Ciri keempat klas spektrum khusus ini adalah sebagai berikut.
  1. Tipe W (Wolf-Rayer). Bintang ini termasuk dalam jenis bintang klas O yang spektrumnya memiliki garis emisi yang sangat luas yang dipancarkan oleh bintang yang berkecepatan tinggi.
  2. Tipe R, adalah bintang dengan ciri spektrum klas K terkecuali adanya pita molekul C2 dan CN.
  3. Tipe N, adalah bintang yang karakteristiknya seperti klas M kecuali pita C2, CN, dan CH yang kuat.
  4. Tipe S, adalah bintang seperti klas M, kecuali dengan adanya tambahan pita molekuler zirconium oksida dan lanthanum oksida.

Klasifikasi spektrum ini sangat berguna untuk mempelajari suhu, tekanan, komposisi kimia, kelimpahan unsur, kecepatan radial, rotasi, turbulensi, dan magnetik bintang.  

Baca juga: 
* Indeks Warna Bintang                    
Indeks Warna Bintang

Indeks Warna Bintang



Menurut hukum radiasi, bintang yang biru suhunya lebih tinggi dari bintang yang warna cahayanya kuning. Magnitudi suatu bintang baik magnitudo semu maupun magnitudo mutlaknya didasarkan pada terang bintang yang diamati oleh mata disebut magnitudo visual yang diberi simbol mv, untuk magnitudo semunya dan Mv untuk magnitudo mutlak visual. Namun mata manusia itu ternyata kepekaannya terhadap warna tidak sama. Mata manusia peka terhadap cahaya kuning dan hijau dan kurang peka terhadap warna biru dan ungu.
 Sedangkan emulsi foto atau plat film itu peka terhadap bahaya biru-ungu tetapi kurang peka terhadap cahaya kuning dan bahkan tidak merespon terhadap cahaya dengan panjang gelombang yang lebih besar dari 500 nm. Sehingga terang bintang yang diamati dengan mata biasa akan berbeda hasilnya bila diamati atau diambil dengan kertas film.
Misalkan ada dua bintang A dan B di mana A adalah bintang biru dan B adalah bintang kuning. Andaikan energi cahaya yang ditangkap melalui teleskop dari kedua bintang itu sama banyaknya. Namun mata akan mengamati bintang B lebih terang dari bintang A. Sedangkan bila cahaya kedua bintang itu ditangkap dengan kertas film maka hasilnya akan nampak bintang A lebih terang dari pada bintang B. Hal ini disebabkan karena bintang A lebih banyak memancarkan energi pada daerah biru dibandingkan dengan daerah kuning dibandingkan dengan daerah biru. Jadi magnitudo bintang A bila dilihat dengan mata akan lebih besar dari magnitudo bintang B, sedangkan bila ditangkap dengan kertas foto, maka bintang A magnitudonya akan lebih kecil daro pada bintang B. Magnitudo yang dihasilkan dengan plat foto yang peka biru disebut magnitudo fotografik yang diberi simbol mf, dan untuk magnitudo mutlaknya diberi simbol Mf. Magnitudo bintang yang didasarkan pada hasil pengamatan mata biasa dinamakan magnitudo visual yang diberi simbol mv dan untuk magnitudo mutlaknya diberi simbol Mv.
Jadi untuk bintang A ternyata mv > mf sedang sebaliknya dengan bintang B yang ternyata mv < mf. Selisih antara magnitudo fotografik dengan magnitudo visual atau mf - mv suatu bintang dinamakan indeks warna.
Pada contoh di atas  bintang A adalah bintang biru memiliki mf < mv sehingga mf - mv menjadi negatif sedangkan untuk bintang B sebagai kuning memiliki indeks warna mf - mv yang positif. Makin tinggi suhu bintang maka mf akan makin kecil dan mv makin besar sehingga indeks warna bintang makin kecil dan kemungkinan bisa negatif. Oleh karena itu, indeks warna ini dapat digunakan sebagai petunjuk suhu suatu permukaan bintang, dan suhu bintang ditentukan dengan menggunakan indeks warna dinamakan suhu warna.
Pada tahun 1950, Johnson dan Morgan mengajukan sistem magnitudo U (ultraviolet), B (biru), dan V (visual), dan sistem ini menghasilkan dua indeks warna U-B dan B-V. Indeks warna mf - mv bisa dituliskan dengan B-V. Indeks warna juga dapat dinyatakan dalam magnitudo mutlaknya Mf - Mv atau dapat dituliskan MB - Mv. Sesuai dengan hukum kebalikan kuadrat jarak dari cahaya, maka indeks warna suatu bintang tidak akan berubah meskipun ditempatkan pada jarak yang berbeda,misalnya pada jarak 10 parsec, sehingga dengan demikian,
           B-V=Mb-Mv.................... (1)
Sekarang ini orang telah membuat kertas film yang peka segala warna termasuk yang peka kuning yang memberi respon sama seperti mata manusia. Karena cahaya bintang biru bila ditangkap dengan kertas film peka biru akan lebih terang dibandingkan dengan pada kertas peka kuning, berarti megnitudo biru B kecil dari magnitudo kuning V, sehingga B-V menjadi negatif. Sebaliknya bintang kuning atau bintang merah memiliki magnitudo visual yang lebih kecil dibanding magnitudo biru sehingga indeks warnanya B-V menjadi positif.
Dengan demikian indeks warna itu memberikan ukuran warna suatu bintang. Indeks warna yang kecil atau negatif menandakan bintang itu makin biru dan indeks warna yang benar menunjukkan bintang itu kuning atau merah. Selanjutnya warna bintang menunjukkan suhu bintang. Ini berarti indeks warna itu juga memberikan indikasi suhu bintang. Pada suhu 104 K, magnitudo ultra violet, biru, dan visual atau U, B, dan V harganya sama satu dengan yang lainnya, sehingga pada suhu ini indeks warna bintang harganya nol, baik indeks warna U-B maupun B-V. Rentang indeks warna B-V adalah antara -0,4 untuk bintang yang paling biru dan +2 untuk bintang yang paling merah.
Sistem magnitudo U, B, V, hanya untuk daerah spektrum tertentu saja. Sistem magnitudio berlaku untuk seluruh daerah spektrum radiasi yang dinamakan magnitudo bolometrik dengan simbol mbol, dan magnitudo bolometrik pada jarak 10 parsec yang disebut magnitudo bolometrik mutlak yang diberi simbol Mbol. Selisih antara magnitudo visual dengan magnitudo bolometrik dinamakan koreksi bolometrik dengan simbol BC.
V- mbol=MV -Mbol ........................................(2)
Berikut ini adalah tabel warna pada bintang  dari yang paling panas hingga yang paling dingin (dalam Kubus, 2010):
Temperatur
Warna Bintang
Massa
Radius
Luminositas
Garis-garis Hidrogen
30,000 - 60,000 K
Biru
60
15
1,400,000
Lemah
10,000 - 30,000 K
Biru-putih
18
7
20,000
Menengah
7,500 - 10,000 K
Putih
3.2
2.5
80
Kuat
6,000 - 7,500 K
Kuning-putih
1.7
1.3
6
Menengah
5,000 - 6,000 K
Kuning
1.1
1.1
1.2
Lemah
3,500 - 5,000 K
Jingga
0.8
0.9
0.4
Sangat lemah
2,000 - 3,500 K
Merah
0.3
0.4
0.04
Hampir tidak terlihat

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920-an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard (dalam Wikipedia, 2010).

Kelas
Warna Bintang
Suhu Permukaan ºC
Contoh
O
Biru
>25.000
Spica
B
Putih-Biru
11.000-25.000
Rigel
A
Putih
7.500-11.000
Sirius
F
Putih-Kuning
6.000-7.500
Procyon A
G
Kuning
5.000-6.000
Matahari
K
Jingga
3.500-5.000
Arcturus
M
Merah
<3.500
Betelgeuse

Back To Top